TBC adalah penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis. Kuman ini paling sering menyerang paru-paru, namun juga dapat menyerang organ lain seperti kelenjar getah bening, tulang, sendi, bahkan otak. Penularan TBC terjadi melalui udara, yaitu saat penderita TBC aktif batuk, bersin, berbicara, atau meludah sembarangan, sehingga kuman dapat terhirup oleh orang di sekitarnya.
Penting untuk dipahami bahwa tidak semua orang yang terpapar kuman TBC akan langsung sakit. Dengan daya tahan tubuh yang baik, seseorang dapat menahan kuman tersebut. Namun, bila daya tahan tubuh menurun, kuman dapat berkembang dan menyebabkan penyakit TBC.
Masyarakat diharapkan lebih peka terhadap tanda dan gejala TBC agar dapat segera memeriksakan diri. Beberapa gejala TBC yang umum antara lain:
Batuk berdahak lebih dari 2 minggu, kadang disertai darah
Demam dan meriang yang berlangsung lama
Berkeringat pada malam hari tanpa sebab yang jelas
Berat badan menurun tanpa diketahui penyebabnya
Nafsu makan berkurang
Badan terasa lemas dan mudah lelah
Jika mengalami satu atau lebih gejala tersebut, masyarakat diimbau untuk segera datang ke Puskesmas Pohjentrek untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut.
Salah satu pesan penting yang perlu diketahui masyarakat adalah bahwa TBC bisa disembuhkan. Kunci utama kesembuhan TBC adalah pengobatan yang teratur dan tuntas sesuai anjuran petugas kesehatan. Pengobatan TBC memerlukan waktu yang cukup panjang, umumnya selama 6 bulan atau lebih, tergantung kondisi pasien.
Menghentikan obat sebelum waktunya dapat menyebabkan kuman menjadi kebal terhadap obat (resisten), yang justru membuat pengobatan menjadi lebih lama, lebih sulit, dan berisiko tinggi bagi pasien serta lingkungan sekitarnya.
Keberhasilan pengobatan TBC tidak hanya bergantung pada pasien, tetapi juga dukungan keluarga dan lingkungan sekitar. Keluarga diharapkan dapat mengingatkan pasien untuk minum obat secara teratur, menjaga kebersihan rumah, serta memastikan rumah memiliki ventilasi yang baik agar sirkulasi udara lancar.
Selain itu, stigma terhadap penderita TBC perlu dihilangkan. Penderita TBC membutuhkan dukungan, bukan dijauhi. Dengan pengobatan yang tepat, penderita TBC dapat kembali sehat dan beraktivitas seperti biasa.
Puskesmas Pohjentrek secara aktif melaksanakan program penanggulangan TBC melalui skrining, pemeriksaan dahak, pengobatan gratis, serta pendampingan pasien selama masa pengobatan. Edukasi kepada masyarakat juga terus dilakukan agar kesadaran tentang TBC semakin meningkat.
Kepala Puskesmas Pohjentrek, dr. Dian Megawati, menegaskan pentingnya peran bersama dalam pengendalian TBC.
"TBC bukan hanya tanggung jawab petugas kesehatan, tetapi tanggung jawab kita semua. Dengan deteksi dini, pengobatan yang teratur, serta dukungan keluarga dan masyarakat, TBC dapat kita cegah dan kita tuntaskan bersama, ujar dr. Dian Megawati.
Pemegang Program TBC Puskesmas Pohjentrek, Bu Ajeng Ayu Rahmadani, A.Md.Kep, juga mengajak masyarakat untuk tidak takut memeriksakan diri dan patuh dalam pengobatan.
"Kami mengimbau masyarakat agar segera datang ke puskesmas jika mengalami batuk lama. Pemeriksaan dan pengobatan TBC tersedia dan diberikan secara gratis. Yang terpenting adalah pasien mau berobat secara teratur sampai dinyatakan sembuh, tutur Bu Ajeng Ayu Rahmadani, A.Md.Kep.
Upaya pencegahan TBC dapat dimulai dari hal sederhana, seperti menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), tidak meludah sembarangan, menutup mulut saat batuk atau bersin, menjaga daya tahan tubuh dengan gizi seimbang, serta rutin memeriksakan kesehatan.
Puskesmas Pohjentrek mengajak seluruh masyarakat untuk bersama-sama peduli terhadap TBC. Dengan pengetahuan yang benar, sikap yang peduli, dan pengobatan yang tuntas, kita dapat mewujudkan masyarakat Pohjentrek yang lebih sehat dan bebas dari TBC.
Puskesmas Pohjentrek
Melayani dengan Sepenuh Hati demi Kesehatan Masyarakat
Komentar (0)
Belum ada komentar
Tulis Disini