Kegiatan yang bertempat di Ruang Pertemuan Bromo-Tengger, Puskesmas Pohjentrek Lantai 2, tersebut diikuti oleh perwakilan dari Desa Warungdowo dan Desa Pleret. Peserta terdiri dari kepala desa atau yang mewakili, perangkat desa, serta kader kesehatan.
Pertemuan ini menjadi momentum untuk meningkatkan pemahaman sekaligus memperkuat komitmen bersama dalam mewujudkan sanitasi yang layak, lingkungan yang sehat, serta masyarakat yang mampu beradaptasi terhadap dampak perubahan iklim.
Kegiatan dibuka secara resmi oleh Kepala Puskesmas Pohjentrek, drg. Erlin Fitriany. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan bahwa persoalan sanitasi dan kesehatan lingkungan tidak dapat diselesaikan hanya melalui pelayanan kesehatan di fasilitas kesehatan.
Menurutnya, perubahan perilaku masyarakat merupakan bagian penting dalam menciptakan lingkungan yang sehat. Untuk itu, diperlukan kerja sama antara Puskesmas, pemerintah desa, kader kesehatan, dan masyarakat.
"Sanitasi bukan hanya tanggung jawab Puskesmas, tetapi menjadi tanggung jawab kita bersama. Pemerintah desa, kader kesehatan, dan masyarakat memiliki peran yang sangat penting untuk membangun kebiasaan hidup bersih dan sehat. Harapannya, apa yang didapatkan dalam pertemuan ini tidak hanya berhenti pada pengetahuan, tetapi dapat diteruskan dan diterapkan di lingkungan masing-masing, ujar drg. Erlin Fitriany.
Ia juga menekankan bahwa kader kesehatan memiliki posisi strategis sebagai penghubung antara program kesehatan dengan masyarakat. Dengan komunikasi dan pendampingan yang berkelanjutan, diharapkan masyarakat semakin memahami bahwa sanitasi merupakan investasi penting untuk mencegah berbagai masalah kesehatan.
Materi kegiatan disampaikan oleh Petugas Kesehatan Lingkungan Puskesmas Pohjentrek, Ibu Indah Wahyuningsih, ST. Dalam pemaparannya, peserta mendapatkan penguatan mengenai konsep dan penerapan 5 Pilar STBM.
Kelima pilar tersebut meliputi:
Stop Buang Air Besar Sembarangan (BABS);
Cuci Tangan Pakai Sabun (CTPS);
Pengelolaan Air Minum dan Makanan Rumah Tangga (PAMM-RT);
Pengelolaan Sampah Rumah Tangga;
Pengelolaan Limbah Cair Rumah Tangga.
Ibu Indah menjelaskan bahwa STBM tidak hanya berbicara mengenai tersedianya sarana sanitasi, tetapi juga bagaimana membangun kesadaran dan mengubah perilaku masyarakat secara berkelanjutan.
"Lima pilar STBM ini sebenarnya sangat dekat dengan kehidupan kita sehari-hari. Mulai dari tidak buang air besar sembarangan, membiasakan cuci tangan pakai sabun, memastikan air minum dan makanan aman, mengelola sampah dengan baik, sampai mengelola limbah cair rumah tangga. Kalau perilaku ini dilakukan secara konsisten, dampaknya akan sangat besar terhadap kesehatan keluarga dan lingkungan, jelas Ibu Indah.
Menurutnya, keberhasilan implementasi STBM membutuhkan dukungan semua pihak, terutama pemerintah desa dan kader kesehatan. Kader diharapkan dapat menjadi penggerak perubahan perilaku dengan memberikan edukasi dan mengajak masyarakat untuk bersama-sama menyelesaikan persoalan sanitasi yang ada di lingkungannya.
Selain membahas 5 Pilar STBM, kegiatan juga memberikan pemahaman mengenai Desa Sehat Iklim. Topik ini penting mengingat perubahan iklim dapat memberikan dampak terhadap kondisi lingkungan dan kesehatan masyarakat.
Perubahan suhu, pola hujan, ketersediaan air, hingga meningkatnya risiko bencana dan penyakit tertentu menjadi tantangan yang perlu diantisipasi bersama. Desa sebagai lingkungan terdekat dengan masyarakat memiliki peran penting dalam membangun kesiapsiagaan dan ketahanan masyarakat terhadap perubahan tersebut.
Ibu Indah menambahkan bahwa menjaga lingkungan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari upaya menjaga kesehatan.
"Desa sehat iklim bukan hanya tentang bagaimana menghadapi perubahan iklim, tetapi juga bagaimana kita menjaga lingkungan mulai dari hal-hal sederhana. Pengelolaan sampah, menjaga kebersihan sumber air, penghijauan, dan membangun perilaku masyarakat yang peduli lingkungan merupakan langkah nyata yang bisa dilakukan bersama, tambahnya.
Kehadiran unsur pemerintah desa, perangkat desa, dan kader kesehatan dari Desa Warungdowo dan Desa Pleret menjadi bagian penting dalam penguatan program kesehatan lingkungan. Melalui pertemuan ini, peserta diharapkan dapat membawa pengetahuan dan pesan kesehatan yang diperoleh untuk diterapkan di wilayah masing-masing.
Puskesmas Pohjentrek berkomitmen untuk terus membangun sinergi dengan pemerintah desa dan masyarakat dalam mengembangkan program kesehatan yang berbasis pemberdayaan. Kolaborasi tersebut diharapkan mampu mendorong perubahan perilaku yang nyata serta menciptakan lingkungan yang lebih bersih, sehat, dan berkelanjutan.
Implementasi 5 Pilar STBM dan penguatan Desa Sehat Iklim pada akhirnya bukan hanya menjadi program kesehatan, tetapi merupakan gerakan bersama untuk menciptakan kualitas hidup masyarakat yang lebih baik.
Puskesmas Pohjentrek - Bersama Masyarakat, Wujudkan Lingkungan Sehat dan Desa yang Tangguh.
Komentar (0)
Belum ada komentar
Tulis Disini